Bercinta Dengan Teman Sekantor? Pikir-Pikir Lagi, Deh!

Rima menyambut pagi dengan wajah berseri. Seakan menyisir dan merias wajah tak cukup untuk membuat penampilannya enak dipandang, perempuan lajang berusia 30 tahun itu menyemprotkan minyak wangi beraroma segar di sekujur tubuhnya. Senandung tembang cinta terdengar dari bibirnya yang menyunggingkan senyum. Ya, bekerja sepertinya selalu menimbulkan semangat ekstra bagi lajang 26 tahun itu. Rima tak sadar, Tika, teman sekamar yang juga teman sekerja, sedari tadi terus mengamati tingkah-polahnya.
“Rima, kamu jatuh cinta pada Pak Anton, ya?” celetuk Rima.
Mendengar nama atasannya disebut, wajah Rima memerah tersipu. Maklum, beberapa minggu terakhir figur Anton selalu mengisi mimpi-mimpinya.
“Hati-hati, lho, kalau jatuh cinta pada teman sekantor!” ujar Tika.
Seketika keceriaan Rima pupus. “Lho, kenapa?”
“Bisa rumit masalahnya,” jawab Tika sembari mengambil tas kerja dan langsung meninggalkan Rima yang masih tertegun.
Jatuh cinta pada rekan sekantor seperti yang dialami Rima sebenarnya sesuatu yang wajar. Bayangkanah hidup keseharian Anda. Bangun pukul 5 pagi, dua jam kemudian berangkat ke kantor. Pukul 8 tiba di kantor, terus bekerja hingga pukul 5 sore. Lalu terjebak macet di sana-sini saat dalam perjalanan pulang. Sampai di rumah dalam keadaan letih pukul setengah tujuh petang. Mandi, makan malam, lalu segera tidur agar besok punya tenaga untuk bangun pagi-pagi. Ini masih belum memperhitungkan kemungkinan lembur.
Kenyataannya, para profesional muda lebih banyak menghabiskan waktu hidupnya di dalam kantor. Akibatnya, banyak pria dan wanita lajang yang tak memiliki waktu untuk bergaul dengan masyarakat luar. Wajar saja bila akhirnya mereka cinta jatuh pada orang yang ada di lingkungan terdekat: di kantor. Saking seringnya hal ini terjadi, sampai-sampai muncul istilah tersendiri untuk percintaan antar-teman sekantor: office romance.
Banyak lajang yang merasa kantor merupakan tempat yang wajar untuk bergaul. Lagipula, sedikitnya Anda menghabiskan waktu 40 jam per minggu di situ, berkumpul dengan orang-orang yang berlatarbelakang dan minat yang kurang lebih sama. Menjalin hubungan ‘lebih’ dengan rekan sekerja jadi begitu menggoda, sebab kerja keras sepertinya tak lagi menyisakan cukup waktu untuk bersosialisasi dengan dunia luar.
Seperti juga reaksi Tika, menjalin hubungan asmara dengan rekan sekantor memang bisa mengundang berbagai isu, baik positif maupun negatif. Ini sebabnya, orang perlu berpikir matang-matang sebelum membina ikatan asmara dengan teman sekantor.

POSITIF DAN NEGATIFNYA
Salah satu aspek positif hubungan dengan teman sekarja adalah efisiensi. Anda nggak perlu lagi mencari waktu untuk bertemu dengan kekasih, kan? Anda sudah cukup puas bertemu seharian dengannya. Ini berarti penghematan uang dan waktu. Keuntungan lain dari office romance adalah karena Anda sudah sering bekerja sama dengan kekasih, Anda pasti sudah mengenali apa yang ia suka dan apa yang ia benci. Ini bisa mengurangi jumlah ‘sakit hati’ yang kerap menyerang pasangan kekasih yang belum terlalu saling mengenal.
Dan akhirnya, Anda berdua pasti bisa pulang-pergi ke kantor berbarengan, kan? Ini bisa menghemat energi, baik energi Anda maupun energi gas alam. Belum lagi, penghematan uang transportasi. Macet di jalan tak lagi menyebalkan, malah jadi sesuatu yang menyenangkan karena bisa berduaan lebih lama. Kalau terlambat tiba di kantor, ya, tanggung saja akibatnya bersama-sama.

Namun, office romance juga menyimpan kekurangan. Misalnya, selancar-lancarnya hubungan asmara Anda, hubungan juga berarti memungkinkan adanya pergesekan. Fakta bahwa pasangan secara konstan saling berhubungan pagi dan malam bisa menimbulkan pertengkaran. Semua orang membutuhkan ‘ruang pribadi’ untuk melakukan hobi atau bergaul dengan teman-temannya sendiri. Bila individu mengalami kekurangan dalam dua hal di atas, bukan tak mungkin hubungan asmara justru menimbulkan akibat yang merusak diri sendiri.
Asmara macam ini juga dapat menurunkan kemampuan profesional kerja. Bayangkan, mampukah Anda mengatakan pada pasangan bahwa cara kerjanya buruk? Ini jelas dapat memicu dilema antara hubungan pribadi dan pekerjaan. Hindarilah tindakan menuduh. Pasalnya, ini sangat berpotensi untuk membuat rekan Anda sakit hati.
Kecemburuan adalah masalah yang lain lagi. Lantaran Anda harus merahasiakan hubungan asmara Anda, rekan lain bisa saja menggoda pasangan di depan mata. Anda harus menghadapi semua itu dengan kepala dingin, apalagi bila cara menggodanya merupakan bentuk yang lazim ditanggapi sebagai guyonan di tempat kerja.

Sebelum memulai ikatan, berhati-hatilah. Pertimbangkan potensi-potensi konflik yang sudah disebut di atas. Evaluasi pula posisi jabatan Anda dan pasangan Anda. Hubungan bisa menjadi makin rumit dalam posisi jabatan tertentu. Antara lain:
Berkencan dengan rekan kerja: persaingan dan kompetisi bisa melukai hubungan antar-rekan kerja. Situasi yang tak nyaman juga dapat berkembang setelah hubungan putus, apalagi jika dihubung-hubungkan dengan kenaikan jabatan.
Berkencan dengan bawahan: tuduhan bahwa Anda bersikap pilih kasih dapat terjadi. Sebaliknya, bila akhirnya hubungan Anda tak berlanjut, bukan tak mungkin Anda dituduh telah melakukan pelecehan seksual pada bawahan.
Berkencan dengan atasan: Sama dengan berkencan dengan bawahan, sikap pilih kasih bisa terjadi. Apesnya, bila hubungan tak berlanjut, bisa-bisa Anda DIPECAT!
KUNCINYA: TETAPLAH PROFESIONAL
Alasan-alasan di atas melandasi kebijakan beberapa perusahaan untuk menganggap office romance sebagai suatu tindakan ilegal. Beberapa perusahaan malah mendefinisikan secara tegas makna ‘berkencan’ atau ‘berhubungan’ yang diharamkan tersebut. Perkawinan dengan teman sekantor sering mengakibatkan salah satu di antara pasangan tersebut harus mengundurkan diri dari kantor. Di bawah ini ada beberapa tips untuk menghindari terjadinya office romance:
- Anutlah peraturan ‘satu tahun’. Jadi satu tahun pertama Anda bekerja di perusahaan, jagalah agar rekan bisnis atau teman kantor tetap berstatus ‘sekadar’ teman. Bila ada yang menggoda, cobalah untuk tetap bersikap santai dan wajar.
- Berhati-hatilah jika Anda orang baru dalam perusahaan tersebut. Juga jika Anda berada dalam situasi yang tidak biasa (misalnya dalam sebuah perjanjian dagang atau konferensi) dan bertemu seseorang yang bersikap ‘terlalu’ bersahabat, mengorek-korek detail kehidupan pribadi Anda.
- Tes rekan bisnis Anda dengan tes yang ‘rendah risiko’, sekadar untuk menguji siapa saja yang layak Anda percayai.
- Jika Anda sudah kepalang jatuh cinta dan sepakat dengan pasangan untuk bersikap maju terus pantang mundur, letakkan tips ini di pintu kamar Anda agar Anda selalu ingat untuk:
a. Menahan diri. Usahakan jangan melakukan sikap-sikap yang mencolok di lingkungan kantor, seperti bergandengan mesra, memeluk atau berciuman. Redamlah keinginan bergosip tentang hubungan cinta Anda berdua, bercengkerama di balik kubik kerja Anda, atau di mana saja. Dan yang utama, jangan sampai hubungan cinta membuat Anda bersikap subyektif dan pilih kasih.
b. Mengakui fakta yang ada. Terimalah kenyataan bahwa suatu saat orang lain akan mengetahui. Katakan saja, ”Ya, saya memang pacaran dengan Anton.” Cukup. Anda tak perlu menambahkan bensin pada api gosip. Dengan begitu, kasak-kusuk tentang hubungan Anda berdua akan reda sendiri.
c. Tetap bersikap profesional. Artinya, pertahankan prestasi kerja Anda, jangan saling mengerlingkan mata sebagai kode untuk bercinta atau berkencan nanti malam. Tetaplah menjadi dua rekan kerja yang terpisah.
Jika hubungan Anda tak berakhir bahagia, entah siapa pun yang salah, jangan balas dendam! Tidak menceritakan keburukan pasangan atau mengkritik pekerjaannya habis-habisan, masuk dalam kategori ini. Membalas dendam hanya akan membuat Anda tampak lebih buruk.
Jika Anda patah hati dan ingin menangis seharian, ambillah cuti. Lalu kembalilah ke meja kerja dengan wajah cantik. Tersenyum, bersikap sopan, hindari pembicaraan mengenai percintaan kalian (termasuk dengan dirinya). Lupakanlah. Teruskanlah hidup Anda. Dunia ini tak sesempit daun kelor!
Dok.Nova

~ oleh lintasdunia pada Mei 30, 2009.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: