Perempuan disunat (haruskah?)

Lima perkara yang merupakan fitrah manusia:1. Sunat(khitan), 2. al-Istihdad(mencukur rambut pada sekitar kemaluan), 3. memotong kumis, 4. mencukur bulu ketiak, dan 5 menggunting kuku” (HR, Jama’ah dari Abu Hurairah)

Bagi sebagian masyarakat khitan anak laki-laki adalah sebuah perkara yang sangat wajar. Namun tidak demikian dengan khitan perempuan, mereka masih menganggapnya tabu atau menjadi perkara yang sangat jarang dilakukan.

Khitan secara bahasa diambil dari kata “khotana” yang berarti memotong. Khitan bagi laki-laki adalah memotong kulit yang menutupi ujung zakar (penis), sehingga menjadi terbuka. Sedangkan khitan bagi perempuan adalah memotong sedikit kulit(selaput) yang menutupi ujung klitoris (preputium clitori) atau membuang sedikit dari bagian klitoris(kelentit) atau bagian atas kemaluan perempuan. Khitan bagi laki-laki dinamakan I’zar dan bagi perempuan disebut khafd.

Para ulama sepakat bahwa perempuan secara umum ada di dalam Syariat Islam. (al-Bayan min Al Azhar as-Syarif:2/18) Tetapi mereka berbeda pendapat tentang status hukumnya, apakah wajib, sunnah, ataupun hanya anjuran dan suatu kehormatan.

Diantara dalil-dalil tentang khitan perempuan adalah sebagai berikut:

1. Hadits Abu hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Lima hal yang termasuk fitroh yaitu: mencukur bulu kemaluan, khitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.”(HR.Bukhari dan Muslim)

2. “Apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi.”(Hadits shahih riwayat Tirmidji, Ibnu Majah dan Ahmad).
3. Hadits Anas bin Malik RA, Nabi bersabda kepada Ummu ‘Athiyah:

Apabila engkau mengkhitan perempuan potonglah sedikit, dan janganlah berlebihan, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami.” (HR. Abu Daud dan Baihaqi)

4. Rasulullah SAW bersabda:”Khitan itu sunnah bagi laki-laki dan kehormatan bagi perempuan.”(HR ahmad dan Baihaqi)

Hukum wajib

Ulama yang mewajibkan khitan perempuan mengatakan bahwa arti “fitrah” dalam hadits no 1 adalah peri kehidupan yag dipilih oleh para nabi dan disepakati oleh semua syari’at, atau bisa disebut agama, sehingga menunjukkan kewajiban. Di tambah dengan hadits no 2 yang menyebut dua khitan yang bertemu, maksudnya adalah kemaluan laki-laki yang dikhitan dan kemaluan perempuan yang dikhitan. Hal ini secara otomatis menunjukkan bahwa khitan perempuan hukumnya wajib.

Hukum sunnah

Ulama yang berpendapat sunnah mengatakan khitan dalam hadits no.1 disebut bersamaan dengan amalan-amalan yang status hukumnya adalah sunnah, seperti memotong kumis, memotong kuku dan seterusnya, sehingga hukumnyapun menjadi sunnah. Kemudian pada hadits no 2 dikatakan tidak secara tegas menyatakan kewajiban khitan bagi perempuan.(Asy Syaukani, Nailul Author :1/147). Hadits no 3 mereka menyatakan hadits ini lemah.

Hukum ajuran dan kehormatan

Ulama yang berpendapat ini menggunakan dalil hadits no 4, sehingga mereka berpendapat khitan perempuan adalah hanya anjuran atau kehormatan.

Tapi perlu digaris bawahi Sebagian Ulama mengatakan hadits no 4 dinyatakan lemah karena didalamya ada rawi yang bernama Hajaj bin Arthoh(tidak konsisten).

Kesimpulan

Dari beberapa hadits di atas, sangat wajar jika para ulama berbeda pendapat tentang hukum khitan perempuan. Tapi yang jelas semuanya mengatakan bahwa khitan perempuan ada dasarnya di dalam islam. Perbedaan para ulama dalam memandang khitan perempuan harus disikapi dengan lapang dada. Diantaranya adalah keadaan organ perempuan (klitoris) antara satu dengan yang lain berbeda beda. Bagi yang mempunyai klitoris yang besar dan mengganggu aktivitasnya sehari-hari dan membuatnya tidak pernah tenang karena seringnya kena rangsangan dan dikhawatirkan akan menjerumuskannya ke dalam tindakan yang keji seperti berzina, maka bagi perempuan tersebut khitan adalah wajib.

Sedangkan bagi perempuan yang klitorisnya berukuran sedang dan tertutup dengan selaput kulit, maka khitan baginya sunnah karena akan menjadikannya lebih baik dan lebih dicintai oleh suaminya sebagaimana dijelaskan dalam hadits no 3, sekaligus akan membersihkan kotoran-kotoran yang berada dibalik klistorisnya.

Adapun perempuan yang mempunyai klitoris kecil dan tidak tertutup dengan kulit, maka khitan baginya adalah kehormatan.(Ridho Abdul Hamid, Imta’ul Khilan bi ar-Raddi ‘ala man Ankara al-Khitan,hal 21-22).

~ oleh lintasdunia pada Mei 26, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: