Kisah Mega di Kampung Taufiq Kiemas

Sebuah kedai di Nagari Sabu, Kecamatan Batipuh, Tanah Datar, siang kemarin terlihat ramai. Belasan pemuda, baik yang berprofesi sebagai petani maupun tukang ojek, asik bercengkrama.
Mereka tidak peduli dengan siaran berita yang tengah ditayangkan sebuah stasiun televisi nasional. Berita itu melaporkan aktivitas Megawati Soekarnoputri yang maju menjadi calon presiden (capres) berpasangan dengan Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden
(cawapres). Nama Mega ternyata tidak mampu ‘mencuri’ waktu dan
perhatian para pemuda itu.
Realitas serupa, juga ditemukan pada banyak kesempatan. Hangatnya perbincangan terkait dengan situasi politik menjelang pilpres, termasuk aroma dukung-mendukung, tidak berimbas ke nagari yang terletak di lereng Gunung Marapi tersebut.
Ada apa dengan Megawati? Apa hubungannya dengan Nagari Sabu? “Megawati itu adalah menantu orang Sabu. Dia kan istrinya Taufiq Kiemas. Pasangan suami istri tersebut, telah dianugerahi gelar adat di sini. Mereka sudah bagian dari anak nagari ini,” terang pemuka masyarakat Sabu, Bachtiar Sidi Mulie, didampingi sejumlah pemuka lainnya, semisal A. St. Kayo, K. Dt. Nan Basa dan A. St. Rangkayo Bungsu dalam perbincangan terbatas dengan Singgalang,  Senin (25/5), di Sabu.
Dekatnya hubungan Mega dengan Nagari Sabu, sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari tonggak sejarah yang dipancangkan pada Hari Minggu, 21 Desember 2003 lalu. Saat itu, Suku Sikumbang di Nagari Sabu mengukuhkan gelar Datuak Basa Batuah kepada Taufiq Kiemas. Pada waktu bersamaan, Megawati Soekarnoputri —istri Taufiq— yang kala itu menjabat Presiden RI, diberi pula gelar kehormatan Puti Reno Nilam.
Z.H. Dt. Kayo yang kini menjabat ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Sabu adalah salah seorang keluarga Taufiq yang pada waktu pengukuhan itu menyatakan, pengukuhan gelar terhadap Taufiq tidak ada unsur politisnya. Sayang, saat Singgalang berkunjung ke nagari itu, Dt. Kayo sedang berada di Pekanbaru. Informasi yang diperoleh, nenek buyut Taufiq adalah Siti Saadah, anak Aisyiyah putri dari Andai Korong.
Andai Korong juga punya seorang putra, Alrauf Datuak Basa Batuah, dan keturunannya sudah punah. Siti Saadah memiliki anak kandung Hj. Amsatu Rusda dan melahirkan ibu kandung Taufiq Kiemas.
“Sejak penganugerahan gelar itu, masyarakat Sabu memiliki ikatan emosional yang cukup kuat dengan pasangan Mega-Taufiq. Tak mungkin anak nagari ini akan melupakan keduanya. Tapi dalam konstelasi politik praktis, kita tidak bisa menebak pilihan warga,” terang Sidi Mulie yang kini menjadi Walinagari Sabu.
Kendati tidak bisa memastikan pilihan politik warga Sabu terhadap ketiga pasangan capres yang sama-sama memiliki ikatan sosio- kultural dengan Minangkabau, namun sekitar 1.900-an pemilih di nagari itu hampir dapat dipastikan akan menyalurkan aspirasi mereka dengan cara mendatangi 8 TPS pada saat pemilihan presiden nanti.
“Tingkat partisipasi politik warga cukup tinggi,” ucapnya.
Mustahil bagi rang Sabu untuk bisa melupakan sosok Mega selaku menantu mereka. Tetapi kemungkinan suara warga akan terbagi  kepada ketiga capres tetap saja terbuka. Cuma, sebutnya, ibarat orang berdiang, mereka yang dekat dengan api akan merasakan panasnya. Semakin jauh api itu, imbuhnya, semakin berkurang pula panas yang dapat dirasakan.
“Siapapun presiden terpilih nanti, kami berharap, Sabu bisa dibangun. Saat ini, banyak pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat, mulai dari kantor walinagari sampai kepada sarana dan prasarana jalan, peningkatan produksi tani hingga ke saluran air bersih. Megawati yang menantu Rang Sabu, Jusuf Kalla yang sumando rang Lintau hingga SBY yang juga bergelar adat Minangkabau, semuanya sama, dan sama-sama berpeluang dapat suara di Sabu,” timpal St. Kayo.
Sabu memiliki luas 9 Km persegi. Terdiri dari empat jorong: Subarang, Kampuang XI, Pakan Akad dan Sungai Ungkang.
Penduduknya berjumlah 2.631 dengan 1.900-an orang telah terdaftar sebagai pemilih. Sehari-hari, warga hidup dari hasil pertanian dan tanaman ekspor semisal kopi dan kulit manis. Akankah Megawati tidak  bernasib ‘apes’ sebagaimana halnya PDI Perjuangan di Sabu karena minusnya pemilih? Kita tunggu hingga 8 Juli 2009 mendatang.
Dan hari kian sore, jalan sempit di nagari itu, ramai dilewati kendaraan hendak dan dari Batusangkar. Singgalang kembali maracak motor, cigin ke Padang Panjang.(singgalang)

~ oleh lintasdunia pada Mei 29, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: