Ups.. Kalo Mau Selamat…Jangan Katakan Ini pada Bos!

Percaya atau tidak, bila tak hati-hati berkata, karier bisa terancam. Nah, sebaiknya pahami rambu-rambu berbicara pada atasan dan simak tipsnya!

Sebaik apapun hubungan Anda dengan Atasan, tetap saja ada batas-batas yang tak boleh dilanggar. Salah satu yang mesti diingat, adalah etika ketika berbicara dengan atasan. Meskipun Anda merasa memiliki hubungan yang akrab dan spesial, hierarki dalam perusahaan tetap mengharuskan Anda menunjukkan rasa hormat kepada atasan.

1. “Saya benar-benar harus bicara dengan Anda. Ini Penting!”
Mungkin Anda merasa tak ada yang salah dengan perkataan tadi, mengingat hal yang akan dikemukakan menyangkut kepentingan pekerjaan yang amat penting. Kendati demikian, mengatakan kalimat ini kepada atasan dapat berkesan Anda sudah menganggap sepele orang lain, sementara Anda memiliki urusan yang lebih penting dengan atasan.

Bahkan berkesan Anda berhak mendapatkan perhatian secara individual dari atasan, karena merasa termasuk ke dalam orang penting di perusahaan. Padahal, di era modern yang serba cepat dan kompleks ini, para manajer juga atasan memiliki waktu yang semakin sempit untuk dapat melayani anak buah secara individual.

Sebaiknya, jika ingin mengemukakan sesuatu pada atasan, jelaskan maksud topik pembicaraan sejak awal. Setelah atasan menyatakan akan memberikan waktunya untuk berbicara secara personal, barulah Anda dapat mengungkapkan hal-hal penting yang ingin disampaikan.

2. “Saya tak perlu orang lain untuk mengajari saya.”
Terkadang, sadar atau tidakr Anda telah mengatakan hal-hal yang tidak patut dikatakan di dalam lingkungan kerja. Salah satunya mengatakan, Anda bisa melakukannya sendiri tanpa perlu diajari lebih dahulu oleh atasan pada divisi atau perusahaan yang baru saja dimasuki.

Meski Anda sudah berpengalaman di bidang ini, tak ada salahnya mendengarkan langkah-langkah yang dijelaskan oleh perusahaan atau atasan. Jika Anda menampik arahan ini dengan perkataan seperti di atas, tentu akan menimbulkan kesan tidak menyenangkan.

Dengan berpikir, Anda sudah amat ahli dalam suatu pekerjaan dan seolah-olah tak perlu lagi belajar ulang sesuai konteks perusahaan, hanya akan membuat atasan mengabaikan kesulitan yang mungkin Anda temui kelak.

3. “Saya tidak mengerti.”
Sekalipun Anda mendapati kesulitan ketika mengikuti salah satu program yang diadakan perusahaan, tetaplah menjadi sebuah kesalahan bila di dalam job training lalu Anda mengungkapkan ketidakmengertian secara naif.

Di dalam sebuah perusahaan, pasti memiliki standar pegawai yang diharapkan sesuai syarat kelulusan dari suatu job training. Seseorang yang terus menerus butuh instruksi dalam job trainingtentu akan mempengaruhi performan dalam penyelesaian tugas.

Di mata atasan hal semacam ini akan menurunkan nilai kepantasan yang dimiliki karyawan tadi, kendati Anda sebenarnya memiliki nilai lebih dari yang diasumsikan terhadap kinerja Anda.

4. “Bisakah Anda Ulangi?”
Adalah satu pelanggaran jika Anda terus menerus meminta atasan mengulangi instruksi yang sudah diberikan. Kalimat ini mengindikasikan Anda kurang peduli atau tak menghargai apa yang sudah atasan katakan.

Sebaiknya, coba ikuti dahulu instruksi selanjutnya, atau tanyakan kepada rekan kerja yang lain. Cara ini jauh lebih baik daripada buru-buru meminta atasan mengulang lagi instruksi yang sudah diberikan.

5. “Sebenarnya, saya tak pernah memahaminya”
Terkadang kesempatan mendapatkan promosi bisa terancam batal akibat sebuah perkataan yang Anda lontarkan. Misalnya mengatakan, Anda tidak memahami penjelasan atasan yang terdahulu.

Setelah Anda terbukti tak melakukan pekerjaan yang diinstruksikan, Anda baru mengakui sebenarnya tak paham instruksi itu sejak awal. Ingat, seorang karyawan yang tidak bisa diandalkan akan selalu diingat dan dicap oleh atasan, terutama pada saat evaluasi atau mendapatkan promosi.

6. “Maaf, itu bukan deskripsi kerja saya!”
Banyak perusahaan menekankan pentingnya kerjasama (team work) dan fleksibilitas tinggi yang dimiliki karyawan. Setiap orang perlu melakukan bagiannya. Namun, kadangkala juga perlu melakukan pekerjaan di luar tugas-tugas harian atau mendapatkan tugas dadakan.

Kecuali jika tugas yang atasan berikan sama sekali tak ada kaitannya dengan divisi Anda, sebaiknya tanamkan dalam pikiran, “Tidak ada yang tak bisa dilakukan di perusahaan masa kini!” Jadi, lakukan sebaik yang Anda bisa, meski awalnya terlihat mustahil dilakukan.

7. “Jangan salahkan saya! Itu bukan salah saya!”
Menyalahkan orang lain untuk menutupi kesalahan Anda, bisa jadi mudah diketahui oleh atasan. Ini akan menunjukkan kepada atasan, perilaku ini bukan saja membuat Anda tak bisa diandalkan, tetapi juga terkesan menipu.

Sebaiknya, hindari jauh-jauh mengungkapkan kalimat ini, karena akan sangat mempengaruhi performa kerja Anda. Dan tentunya akan sangat mempengaruhi saat evaluasi atau datangnya promosi kelak.

(nova)

~ oleh lintasdunia pada Mei 30, 2009.

4 Tanggapan to “Ups.. Kalo Mau Selamat…Jangan Katakan Ini pada Bos!”

  1. artikel yang bagus. lalu jika saya jadi bos. apa yang harus tidak saya lakukan pada bawahan saya?

  2. thanx atas infonnya…
    🙂

  3. Thanks infonya, ini akan sangat membantu karena beberapakali saya terlalu berkata apa adanya dan ternyata perkataan itu ada pada penjelasan di atas. TErimakasih sekali lagi!

  4. wah aku sama sekali ga setuju tulisan ini. artikel 1,yang namanya seorang atasan/bos ga pernah ga sibuk,jadi kalo memanag ada hal penting ya knapa ga nylonong aja? contoh minta ttd tagihan/kontrak yang sudah selesai diketik. artikel 2, memang ga akan ngomong frontal gitu, tapi untuk membuktikan bahwa kita memang profesional di bidang kita why not ngomong gitu? artikel 3, kalo emang itu sesuatu yang ga kita ngerti,ya harus bilang ga ngerti jangan sebaliknya. atrikel 4, perintah atasan memang hal yang harus kita laksanakan tapi kalo atasan asal nyuruh aja ga ada instruksi yang jelas ya harus kita minta mengulanginya demi perbaikan. artikel6, wah kalo aku paling ga bisa apabila disuruh melakukan tugas yang bukan tanggungjawabnya. job decription itulah yang menentukan besaran gaji yang kita terima. artikel 7, ya kalo emang suatu kesalahan itu ga mutlak kita yang melakukan knapa harus kita akui? jangan hanya karena ingin baik di mata bos trus menjilat. lebih baik keluar kerja daripada harus menerima suatu tuduhan yang ga bener. jangan asal bos seneng. mungkin ini yang diterapkan para birokrat kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: