Fantastis!Angka Cerai Naik 10 Kali Lipat

Jakarta, Singgalang
Angka perceraian setelah masa reformasi meningkat 4-10 kali lipat dibanding sebelum reformasi. Faktor politik menjadi hal yang dominan sebagai penyebab. Fenomenanya juga terbalik, kini 70 persen istri yang menalak suami.
“Kalau sebelum reformasi angka perceraian antara 20 ribu – 50 ribu per tahun, setelah reformasi naik menjadi 200 ribu per tahun,” kata Dirjen Bimas Islam Departemen Agama (Depag) Nasaruddin Umar pada pertemuan yang digelar di Wisma Antara, Jakarta, Jumat (29/5).
Menurut Nasaruddin, dari hasil penelitian Depag sebanyak 13 faktor menjadi penyebab perceraian di antaranya, faktor ekonomi, migrasi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), selingkuh, cacat, sakit, jarak, ketidakcocokan, di bawah umur, perbedaan intelektual dan faktor politik.
Dari belasan faktor penyebab perceraian tersebut, lanjutnya, faktor politik cukup signifikan sebagai pemicu kenaikan angka perceraian.
Sebagai gambaran, saat mulai maraknya pilkada terdapat 152 kasus perceraian karena faktor politik pada 2005 meningkat menjadi 505 kasus pada 2006.
Kondisi itu dinilai sangat memprihatinkan. Apalagi terdapat fenomena baru yang muncul, di mana  70 persen perceraian sekarang justru karena istri menalak suami, padahal sebelum reformasi sekitar 70 persen perceraian karena suami menalak istri.
“Adanya fenomena istri sekarang lebih dominan meminta cerai, disinyalir karena semakin tingginya tingkat kesadaran hukum di kalangan perempuan,” ujarnya.
“Sementara adanya Undang-undang (UU) KDRT, UU Perlindungan Saksi dan UU Perlindungan Anak, menunjukkan keberpihakan terhadap perempuan,” kata Nasaruddin.
Lebih jauh dijelaskannya, kasus perceraian khususnya yang melibatkan publik figur, belakangan ini ramai-ramai digelar media infotainment sehingga sangat berpengaruh ke masyarakat.
“Bermunculannya pengacara keluarga juga semakin memicu perceraian karena mereka ternyata lebih menjadi provokator dibanding sebagai penasihat,” ujarnya pada Antara.
Terkait dengan tingginya angka perceraian itu, ia mengatakan, kini pihak Depag sedang membuat regulasi untuk memberikan kursus kilat kepada para calon mempelai sebelum menikah.
Alasannya, nasihat perkawinan yang hanya lima menit saja pada saat prosesi pernikahan, dinilai belum cukup memberikan pemahaman kepada kedua mempelai untuk membina dan mempertahankan keutuhan keluarganya pada masa mendatang.*

~ oleh lintasdunia pada Juni 1, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: