Gara-Gara cinta, 61 Tahun Hidup di Sebagai WNI Ilegal

Kisah yang dijalani oleh warga negara Indonesia (WNI) yang satu ini sungguh memilukan. Hidup sebatang kara di rantau orang karena lari dari cinta.
Adalah Sakur, 91, seorang lelaki tua asal Jawa Timur. Usianya lebih tua daripada usia kemerdekaan negeri tempatnya mengais rejeki, Malaysia. Namun ironisnya, meski telah hidup lama, Sakur tidak mempunyai surat-surat resmi sebagai warga negara Malaysia.
Seluruh keluarganya yang hingga kini masih ada di Indonesia menganggapnya telah tiada. Dan sekarang, Sakur merindukan pulang ke Tanah Air.
Kepada wartawan, Sakur menceritakan, kisah hidupnya yang panjang di Malaysia, bermula 61 tahun lalu ketika dirinya memutuskan pergi merantau ke  negeri jiran itu.
“Saya berangkat dari Surabaya. Waktu itu ke sini dengan ‘sapu angin’- lah,” kisah Sakur ketika berbincang-bincang dengan Dubes RI Dai Bachtiar di gedung KBRI Kuala Lumpur, Jumat (17/4) yang kemudian dilansir detik.com.
Tidak tahu persis yang dimaksudkannya dengan ‘sapu angin’. Namun dia mengaku waktu perjalanan yang ditempuh Surabaya-Johor hanya 2 jam.
Keputusan Sakur pergi merantau jauh ke Malaysia ternyata disebabkan persoalan cinta. Dia lari karena kedua orangtuanya mendesaknya menikahi gadis anak saudaranya.
“Ya saya tidak maulah. Saya sudah punya pacar,” ujar kakek yang masih fasih berbahasa Jawa ini.
Saking setianya pada sang pacar, hingga kini Sakur menolak untuk menikah dan tetap hidup membujang.
Kampung Muar di Johor Bahru menjadi tanah yang pertamakali dipijak Sakur ketika tiba di Malyasia. Mulanya dia bekerja sebagai penebang hutan dan pemotong rumput. Namun pekerjaan itu dilakukan selama beberapa bulan saja. Setelah itu, dia bekerja serabutan dan berpindah-pindah.
Ironisnya lagi, Sakur tidak pernah menetap di rumah atau pun menyewa sebuah kamar untuk tinggal. Selama di Malaysia Sakur tinggal berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid yang lain.
“Semua masjid di Malaysia ini sudah saya tinggali. Saya hanya tinggal di masjid,” ungkap dia.
Untuk kehidupan sehari-hari, Sakur mengaku hanya berharap dari keikhlasan pemberian orang lain atas jasa pijit tradisional yang dilakukannya. Sehingga dari jari-jari ‘ajaib’-nya itu Sakur bisa menyambung hidup sedikit demi sedikit.
Usia yang sangat lanjut ditambah dengan kisah hidupnya yang penuh keprihatinan di negeri Petronas telah menggugah hati warga negara Malaysia. Tidak terkecuali seorang anggota parlemen Negeri Selangor bersama beberapa pengurus masjid yang kemudian membantu mengantarnya ke KBRI Kuala Lumpur pada 24 Maret lalu.
“Mereka bilang, tapi dia tidak tahu caranya bagaimana balik ke Indonesia. Karena itu dibawalah dia ke kedutaan. Mereka juga bilang kalau Sakur orangnya rajin salat dan tidak rusuh,” ujar salah seorang staf konsuler KBRI Kuala Lumpur.
Sebelum tinggal di Masjid Sungai Udang, Kelang, tempat tinggalnya yang sekarang, dia tinggal di Masjid Teluk Gong, Kelang. Bahkan sebulan sebelumnya lagi, Sakur tinggal di sebuah masjid di Segambut Johor.
Menariknya, untuk pergi dari Segambut Johor ke Teluk Gong Kelang, Sakur bercerita bahwa dia pergi berjalan kaki 3 hari 2 malam.
Tim Satuan Tugas Pelayanan dan Perlindungan WNI (Satgas PPWNI) KBRI Kuala Lumpur pada 27 Maret 2009 lalu, berhasil melacak keberadaan adik kandung Sakur bernama Sahid yang beralamat di Desa Waru RT/RW 02/02, Kecamatan Tanjung Anom, Lingkungan Krempyang, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Sakur sendiri merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara. Direncanakan, Sakur akan pulang ke Indonesia pada Minggu 19 April didampingi anggota Tim Satgas PPWNI KBRI Kuala Lumpur untuk dipertemukan dengan keluarganya

~ oleh lintasdunia pada Juni 1, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: