Makanan Anda VS Pikiran Dia

Menurut Anda, seporsi salad merupakan hidangan rendah kalori, tanpa lemak jenuh, dan pilihan tepat untuk menguruskan tubuh. Eits, ternyata pria berpikir sebaliknya.

Yippie! Akhirnya ajakan kencan dari si tampan dari gedung kantor sebelah terealisasikan juga. Tampaknya ia hanya butuh beberapa minggu saja untuk melakukan aksi lanjutan dan mengajak Anda jalan, setelah sebelumnya sebatas saling bertukar senyum saja. Katanya, sih ia akan mengajak Anda ke resto favoritnya. “Dijamin, makan malam kita akan sangat menyenangkan,” ujarnya sambil menatap dalam kedua mata Anda. Sesampainya di sana, Anda terkejut, karena resto kegemarannya itu tak lain dan tak bukan menyajikan hidangan ala Pakistan! Anda tahu sendiri, kebanyakan makanannya mengandung lemak, kaya akan bumbu, dan mayoritas diolah dengan menggunakan daging kambing. Sebenarnya sih tak ada masalah ataupun pantangan dalam menyantap semua hidangan lezat tersebut. Hanya saja, setelah liburan hari raya, berat badan Anda bertambah beberapa kilogram hingga memutuskan untuk sedikit berdiet. Tak terkecuali hari ini.

Anda cukup bersyukur dengan pelayanan resto yang sedikit lambat karena pada sibuk melayani tamu-tamu yang lain. Itu artinya Anda punya lebih banyak waktu untuk saling mengenal dan bertukar cerita serta pengalaman dengan si dia. Sesekali Anda tertawa mendengar leluconnya, hingga sang pelayan datang untuk mencatat pesanan. Dengan ringan Anda berkata pada si dia, “Saya minta seporsi salad saja. Maklum ingin menurunkan berat badan. Lihat, kan betapa gemuknya saya?” Tak lama, wajah si dia berubah dan menatap Anda sambil mengerenyitkan dahi. Anda lalu menambahkan, “Hari ini saya sudah makan sepotong tiramisu. Jadi, kompensasinya, malam ini saya hanya boleh makan sayuran dan buah-buahan. Dengan begitu kilojoules yang masuk ke tubuh…” dan setelahnya, si dia mulai memegang kepalanya sambil pelan-pelan berkata, “Terserah.” Saat itu juga, suasana jadi tak enak, runyam, dan rencana untuk lanjut nonton setelah makan dibatalkan oleh si dia. Oh, tidak!

Kenyataannya Adalah…
Oke..Apakah Anda bisa menebak di mana letak “kesalahan” Anda hingga kencan berhenti mendadak? Betul, pembicaraan mengenai kilojoules, diet, mengurangi makanan, dan semuanya itu jelas bukanlah topik favorit pria, khususnya untuk kencan pertama. Kecuali jika si dia merupakan sukarelawan penyelamat binatang yang sedang sibuk memberantas penjualan daging di seluruh dunia. Hey, bukan berarti Anda langsung divonis salah karena memesan salad atau, ternyata seorang vegetarian. Lalu maksudnya? “Mendengar wanita memesan seporsi kecil berisi sayur-sayuran untuk makan malam itu sama halnya mengetahui kalau pemain bola favorit saya ternyata seorang gay. Saya suka wanita dengan selera makan yang normal, tanpa sibuk memikirkan jumlah kalori yang ia konsumsi,” ujar Arga, 27 tahun. Lain halnya dengan Dana, 28 tahun. “Ketika pasangan berbicara mengenai kalori, karbohidrat dan sebagainya, yang saya dengar adalah posisi misionaris, tanpa lampu, dan saling bungkam.” Hmm, adakah korelasi antara makanan Anda dan seks?

Makanan Anda = Imajinasi Mereka
Memang tak bisa dipungkiri, pria suka berfantasi. Dan ini bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, tak terkecuali ketika sedang berkencan. Memang terdengar klise, hubungan antara makanan dan seks. Namun, biasanya segala sesuatu yang klise berakar dari sebuah kebenaran, bukan? “Ketika melihat teman kencan memesan hidangan pedas dan ia terlihat begitu menikmatinya, saya jadi terbayang seperti apa si dia ketika sedang beraksi. Pasti tak kalah panas!” Kata Wisnu, 30 tahun sambil tersenyum nakal. Faktanya, ketika Anda sedang makan sesuatu yang begitu nikmat dan lezat, Anda tak akan berpikir mengenai hari esok, atau perdebatan sengit dengan atasan tadi pagi, atau pakaian Anda yang begitu berantakan hari itu. Bahkan Anda tak berpikir sama sekali, Anda hanya sibuk merasakan secara perlahan tiap-tiap suapan dari makanan yang begitu luar biasa itu, sambil sesekali mengeluarkan bunyi “Mmm.” Dan ini, adegan luar biasa ini, juga menstimuli imajinasi para pria yang melihat Anda menyantap hidangan lezat tadi.

Ketika ditanya mengenai topik di atas, seorang rekan pria Cosmo yang bernama Yudha, 25 tahun, malahan bertanya balik. “Kadang saya tak habis pikir dengan wanita yang sibuk berdiet. Padahal, jelas-jelas mereka tak terlihat gemuk. Sama sekali tidak kelebihan berat badan! Namun tak semua merasa seperti itu. Dan misalnya saja, tubuh Anda memang membawa beban beberapa kilogram lebih banyak dari seharusnya. Saya yakin, para wanita tersebut tahu apa yang harus dilakukan: berolahraga dan tidak mengonsumsi makanan “jahat” tiap hari. Hanya saja itu terlalu mudah. Anda lebih memilih untuk mempersulit hidup dengan menghitung makanan, membaca petunjuk nutrisi. Sesekali sih tak masalah. Tapi jelas bikin jengah kalau wanita sudah terlalu sibuk berkomentar betapa gemuk diri mereka, padahal tidak sama sekali,” ujarnya.

Terima Apa Adanya
Memang sih, kebanyakan wanita yang sibuk menghitung karbohidrat, protein, dan lemak yang masuk ke dalam tubuhnya terlihat begitu menyenangi pekerjaannya. Mereka tampak serius dalam menjalani ritual untuk mencapai berat badan ideal dan terlihat tak keberatan ketika pasangannya memilih untuk mengonsumsi barbeque ribs. Tapi, jangan banyak berharap jika ingin agar si dia ikut berhenti dan mulai menghitung karbohidrat juga. “Bisa dibilang itu misi yang mustahil, setidaknya bagi saya. Ini ibarat saya mendapati hidangan favorit saya tiba di atas meja dalam keadaan dingin dan terlalu asin,” imbuh Satria 24 tahun.

Bisa jadi Anda sudah menemukan pengganti bagi hidangan lezat favorit yang biasanya begitu Anda idam-idamkan itu. Tapi, lihat kenyataannya. Kebanyakan pria mengakui mereka tak pernah mempermasalahkan berat badan Anda. Sama sekali tidak. Bisa jadi yang mengatakan kalau diri Anda gemuk adalah teman, adik, atau bahkan teman gay Anda. “Mungkin kebanyakan wanita berpikir kami berbohong. Tapi kenyataannya, kami tak peduli. Anda tahu? Mendapati seorang wanita yang menarik dan mau ‘bertahan’ dengan diri kita saja sudah suatu hal yang patut disyukuri. Tak pernah terlintas sedikit pun ketika sedang beraksi dengan pasangan, dan berpikir kalau diameter paha si dia perlu berkurang sedikit,” ujar Jeffri, 26 tahun. Dan yang terakhir, seorang rekan pria Cosmo berpesan, “Jika memang ada seorang pria yang mengatur dan melarang Anda untuk menikmati es krim yang nikmat padahal tubuh Anda bagaikan Jennifer Lopez, well, memang ada baiknya Anda meninggalkan es krim tersebut. Dan pria itu. Artinya, ia tidak mencintai Anda apa adanya. Sepulang ke rumah, tak ada salahnya untuk mampir sebentar membeli hotdog kesayangan.”

Pada salah satu episodenya, program berita televisi di Amerika, Today, “mengadu” dua pakar kuliner dengan gender yang berbeda untuk memesan makanan take away. Mereka adalah Jorge Cruise, penulis buku 8 Minutes in The Morning, dan Kathleen Daelemans, penulis Getting Thin and Loving Food. Benar saja. Jorge, mewakili kaum pria, memesan makanan yang  lebih banyak mengandung daging, seperti sosis, bacon, dan steak, serta keju. Sedangkan Kathleen memilih salad, roti gandum, bahkan setuju jika makanannya datang lebih lama asalkan seimbang dalam karbohidrat, protein, dan lemak! Geest, sebuah perusahaan penyedia frozen food di Inggris mensurvei 1000 konsumen di sana, dan terbukti kalau pria lebih konsumtif dalam membeli makanan dibandingkan wanita. Perbedaan paling signifikan terlihat pada pembelian take away, dengan selisih 5 pounds!

~ oleh lintasdunia pada Juni 2, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: