Bila Si Kecil Masturbasi

ANAK-ANAK, bahkan balita, terkadang punya kebiasaan memegangi alat kelaminnya. Fase ini dikenal sebagai fase genital.

Akan tetapi, menurut Roslina Verauli M Psi, psikolog klinis anak dari RS Pondok Indah, Jakarta, yang dilakukan si kecil ini tak selalu mengarah pada masturbasi atau upaya mencari kenikmatan dengan merangsang alat kelamin.

“Ada dua hal yang bisa menyebabkan anak sering memegang alat kelaminnya. Bisa gatal karena kurang higienis atau memang mengenal rasa nikmat dari alat kelaminnya,” papar Vera.

Jika dibiarkan, lama-lama hal ini akan menjadi kebiasaan. Nah, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan para orangtua untuk menghentikan kebiasaan anak memegang alat kelaminnya

1. Tanyakan dengan Lembut. Mengapa anak suka memegang alat kelaminnya? Dengan menanyakan alasannya, orangtua bisa mengedukasi anak, apa yang dilakukannya itu tidak baik.

2. Peluk dan Beri Perhatian. Ketika anak mendapat cukup perhatian dan berinteraksi mesra dengan orangtuanya, praktis ia akan teralihkan dari kebiasaan memegang alat kelaminnya. Kontak fisik yang menyiratkan kasih sayang orangtua lebih efektif dalam menasihati anak daripada dilakukan secara tegas.

3. Ajak Bermain. Mengalihkan perhatian anak dengan memberinya mainan kesukaan merupakan salah satu langkah efektif. Tentu saja orangtua perlu menemaninya bermain agar ia tak mengulang kebiasaannya.

Yang Harus Dihindari!
Hindari beberapa kesalahan saat memperingatkan si kecil yang suka memegangi kelaminnya.

1. Mempermalukan Anak. Mengejek atau memarahinya di depan orang lain agar anak malu melakukannya justru tak akan membuat anak menghentikan kebiasaannya. Bahkan, bisa membangun persepsi yang salah soal seks kepada anak.
2. Menampik Tangan Anak. Tanpa penjelasan verbal atau hanya menampik tangan anak agar tak memegangi alat kelaminnya tak akan membuatnya mengerti letak kesalahannya.
3. Memarahi dengan Emosi Tinggi. Ketika si kecil suka memegangi alat kelamin, kebanyakan orangtua malu dan ingin menunjukkan superioritasnya dengan memarahinya. Hal ini justru membuat pola komunikasi orangtua-anak menjadi rusak dan tak tertutup kemungkinan anak akan bermasturbasi sembunyi-sembunyi.

Source : Kompas

~ oleh lintasdunia pada Juni 3, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: