Kecelakaan Lagi, TNI Hanya Bisa Kambing Hitamkan Cuaca

Jakarta (SuaraMedia News) – Jatuhnya helikopter Bolco milik TNI AD saat mendukung latihan Kopassus di wilayah Cianjur pada Senin, kemarin, merupakan rentetan peristiwa tragis sepanjang pertengahan tahun 2009.

Anggota DPR dari Fraksi PAN Alvin Lie turut menyesalkan sikap TNI AD yang terkesan menyalahkan cuaca sebagai penyebab dari jatuhnya helikopter yang menewaskan tiga orang tersebut.

“Kita harus terus terang, sering terjadi jatuhnya helikopter. Terlalu sering, jadi jangan hanya sekadar menyalahkan cuaca karena saya yakin setiap helikopter TNI AD disediakan fasilitas teknologi yang dapat menangkap radar cuaca,” ujar Alvin Lie saat berbincang di Jakarta, Selasa (9/06/2009).

Menurut dia, faktor penyebab dari kecelakaan pesawat ataupun helikopter di tubuh militer adalah minimnya alokasi anggaran perawatan yang dipotong pemerintah. Akibat buruknya baru terlihat secara tiba-tiba setelah terjadi kecelakaan dan memakan korban jiwa.

“Karena anggaran yang minim tentunya perawatannya juga tidak baik dan tidak beres helikopternya. Saya prihatin persoalan alutsista, tank, dan kapal perang semua rusak. Jadi ini perlu diperhatikan pemerintah,” tuturnya.

Dalam insiden ini menewaskan tiga orang yakni Kolonel Ricky Samuel (Komandan Pusat Pendidikan Kopassus), Kapten Agung (Kasi Operasi Latihan Kopassus) dan Co Pilot Lettu Yuli Sasongko.

Sementara dua lainnya mengalami luka-luka yaitu Lettu Agus Sudarso dan Lettu Hadi Isnanto. Sampai saat ini, penyebab jatunhya helikopter di wilayah Cianjur diduga akibat cuaca buruk.

DPR pun berinisiatif mempertanyakan penyebab jatuhnya helikopter milik TNI AD tersebut kepada Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono secepatnya.

Guna menyiasati situasi serba terbatas yang tengah dialami, TNI harus berani mengambil kebijakan kontroversial dengan mengurangi sejumlah pos pengeluaran, seperti rekruitmen personel.

Dana yang seharusnya dialokasikan untuk penambahan anggota baru bisa dikurangi dan dialihkan untuk merawat peralatan alutista yang sudah tidak layak pakai. Sehingga kasus kecelakaan yang melibatkan peralatan tempur TNI tidak terulang lagi.

“Karena selama ini pengeluaran terbesar TNI malah untuk personel. Saya pikir banyak pos-pos yang bisa dihemat,” ungkap pengamat militer Universitas Parahyangan Anak Agung Banyu Perwita saat berbincang di Jakarta.

Kendati akan memunculkan resistensi, namun kebijakan mengurangi kuota rekruitmen anggota merupakan pilihan paling logis mengingat sudah terlalu buruknya kondisi alutista yang dimiliki TNI.

“Apalagi selama ini rekruitmen personel TNI AD yang paling besar jumlahnya. Kita sudah kehilangan 100 lebih tentara karena buruknya perawatan peralatan alutista. Saya harap ini (jatuhnya helikopter TNI AD) jadi kecelakaan yang terakhir,” terangnya.(okz) http://www.suaramedia.com

~ oleh lintasdunia pada Juni 9, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: