KEREN!! BIKIN VAS BUNGA DARI NASI BASI!

PADANG— Narapidana (napi) selama menjalankan masa hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan (lapas), sebagian tidak mau larut dengan pikiran yang tak menentu sembari menunggu masa pembebasan tiba.
Waktu yang banyak terluang, tanpa ada aktivitas selama di rumah berjeruji besi yang dilengkapi petugas bersegam itu. Malah membuat sebagian melahirkan inspirasi dengan bahan dan sarana seadanya di lapas, nasi basi pun bisa diolahnya.
Penghuni Lapas Klas IIA Padang, telah memanfaatkan nasi basi (sisa) sebagai bahan baku untuk membuat beragam produk rumah tangga.
Hal itu, tentulah menunjukkan tak selamanya nasi basi terbuang. Bukan lagi untuk diberikan pada binatang peliharaan seperti ayam, kucing dan anjing.
Syafrizal (30) napi yang menjalankan masa hukuman 12 tahun ini, mengisi hari-harinya mengaduk nasi basi dengan limbah gergaji (serbuk) menjadi produk guci yang bernilai ekonomis. Satu buah guci tersebut nilai jualnya mencapai Rp250 ribu.
Pria yang berada di kamar Blok A3 Lapas Padang itu, menemukan cara memanfaatkan nasi basi dari teman satu kamarnya selama di penjara.
“Saya tahu caranya nasi basi jadi bahan baku produk guci, asbak, vas bunga dan patung binatang dari Tomi asal Kepulauan Mentawai. Tomi empat bulan lalu sudah bebas,” tutur ditemui di Lapas, Muara, Sabtu akhir pekan lalu.
Menjadikan nasi basi sebagai bahan baku vas bunga, asbak dan guci dilakoni Zal sejak Juli 2008. Kini berbagai motif-motif dikembangkannya dan hasilnya cukup diminati pengunjung Lapas.
Pria mengaku punya tiga anak itu, menuturkan proses nasi basi jadi bahan baku beragam bentuk hiasan rumah tangga itu harus digiling halus.
Lalu diaduk dengan serbuk gergaji dan dibentuk sesuai inspirasi yang diinginkan. Selanjutnya dilakukan proses pengeringan yang bisa memakan waktu tiga sampai empat hari.
Untuk pengkilatnya, tutur dia, dengan minyak pernis atau cat. “Saya sering mengilatkannya dengan cat sehingga bisa diwarnai dengan berbagai motif. Ada pemandangan laut dan gunung,” katanya pada wartawan Antara.

Mengisi waktu
Melihat banyak nasi basi terpikir mengisi waktu untuk membuat  kerajinan tangan dengan cara mengolahnya dengan limbah serbuk gergaji.
“Awak…(saya) belum terpikir untuk menjadikan bisnis dalam jangka panjang, tetapi sebagai hiburan dan mengisi waktu selama menjelankan hukuman,” kata Zal pria asal Tanah Datar itu. Kini belum berbicara target, tapi hanya menghabis-habis hari supaya pikiran tidak terlalu kalut dan suntuk.
Kalau bekerja maksimal satu guci dengan ukuran tinggi satu meter bisa siap dalam empat hari. Tentu tengantung ketersediaan bahan baku dan cuaca cerah.
Nasi sisa tidak selalu ada, apalagi pada hari libur tak ada sama sekali, karena ketentuan bezuk tak ada.
“Saat banyak nasi basi penghuni Lapas, bisa lah membuat agak banyak. Yang namanya nasi sisa, tak selamanya ada apalagi hanya dalam lingkungan Lapas saja,” katanya.
Pria yang sebelumnya bekerja di Pasar raya Padang itu, mengaku lebih suka mengerjakan produk-produk waktu malam hari, sehingga malam terasa singkat.
Peminat karya para napi cukup banyak dari keluarga napi dan tahanan yang berkunjung. “Hasilnya cukup untuk beli rokok dan bahan bakunya. Belum berpikir lebih serius dan kini hasil yang dibuatnya banyak dibawa keluarga pulang,” katanya.
Nurzalnis alias Ajo, napi lainnya menuturkan dirinya baru memulai membuat asbak, patung-patung binatang sejak empat bulan belakangan sembari mengisi waktu menjelang masa tahanan berakhir.
Pria pegawai perusahaan daerah Mentawai yang tersandung itu, menjalankan masa hukuman dua tahun penjara dan telah berjalan 1,4 bulan.
“Ada keluarga napi yang datang membezuk dan melihat patung binatang yang sedang saya dibuat. Karena tertarik sehingga memesan tida unit dan dihargai senilai Rp700 ribu,” katanya.
Pria berusia 43 tahun itu, pernah ditawarkan ke Duri setelah bebas nanti guna melanjutkan usaha serupa berbahan baku nasi basi tersebut.
Bahkan, pria punya anak tiga itu mengaku, produk yang dibuatnya dari nasi basi sudah sampai ke daerah Duri (Riau).
Usaha serupa dilakoni sedikitnya 20 orang dari 748 napi dan tahanan penghuni Lapas Padang posisi (6/6). “Sejak awal 2009 sudah banyak napi yang mulai membuat produk berbahan baku nasi basi itu,” katanya.
Guna mendapatkan bahan baku berupa serbuk gerganji dibeli diluar Lapas oleh keluarganya seharga Rp30 ribu/karung. Begitu juga dengan cat dan pernis, hanya nasi sisa yang dalam Lapas.
Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Lapas, Abdul Karim, menuturkan bagi napi yang ingin mengembangkan kreativitas terus didorong.
Kepala Divisi Pemasyarakat Kanwil Depkum dan HAM Sumbar, Drs. Dzulhaqqil Munir, mengatakan selama ini tidak tutup mata karena fokus lebih kepada sifatnya pengamanan.
Meskipun demikian upaya pembinaan sesuai kemampuan baik petugas dan dukungan dana terus berlangsung dengan menggali potensi yang dimiliki napi dan tahanan.
Data Kanwil Depkum dan HAM Sumbar, warga binaan lapas dan rutan sudah banyak yang membuat karya bernilai ekonomis, selain produk dari bahan baku nasi basi dan juga bentuk lainnya.
Kini program pembinaan yang dilakukan pada Lapas terbuka seluas lebih kurang 20 hektar di Pasaman Barat —satu dari kabupaten pemekaran— di Sumbar itu, pengembangan tanaman holtikultura di antaranya semangka, kacang tanah dan jagung.*

~ oleh lintasdunia pada Juni 9, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: