Lagu Kebangsaan Malaysia Diduga Jiplakan Lagu Indonesia

Lagu kebangsaan Malaysia “Negaraku” diduga hasil jiplakan lagu Indonesia berjudul “Terang Bulan” yang dinyanyikan sejak 1930-an.

“Lagu Terang bulan sudah dinyanyikan di Indonesia sejak lama, setelah merdeka 1957 Malaysia mengubah lagu tersebut menjadi `Negaraku` dan menjadikannya sebagai lagu kebangsaan,” kata pakar multimedia, Roy Suryo.

Menurut dia, lagu `Rasa Sayange` yang dijadikan Malaysia sebagai lagu untuk promosi pariwisata sebenarnya juga sudah dinyanyikan di Indonesia jauh sebelum negara jiran tersebut merdeka, dan lagu ini sering dinyanyikan oleh orang-orang Melayu.

Dalam film `insulinde zooals het leeft en werkt`, film dokumenter Indonesia 1927-1940 produksi NV Haghefilm Denhaag, sudah ada lagu `Rasa Sayange`.

“Ini sebenarnya dapat menjadi bukti bahwa lagu tersebut sudah dinyanyikan masyarakat Indonesia jauh sebelum Malaysia merdeka,” katanya.

Ia menyatakan dirinya saat ini sedang mengumpulkan bukti film asli, baik untuk lagu `Rasa Sayange` maupun `Terang Bulan` guna pembuktian lagu tersebut dicipta oleh orang Indonesia.

“Meskipun saya sudah punya film digitalnya, tetapi besok saya akan ke kantor Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) untuk mencari film aslinya,” kata dia.

Ia menambahkan, kemungkinan Malaysia sudah mempatenkan terlebih dulu baru lagu `Rasa Sayange` tersebut kemudian baru mempublikasikannya.

“Kasus ini persis seperti batik, tempe dan beberapa tarian asal Indonesia yang diklaim hasil karya Malaysia. Sebenarnya ini menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia terutama untuk melindungi budaya daerah dengan segera mempatenkan hasil karya anak bangsa,” katanya.

Gubernur Maluku Bersikeras Lagu “Rasa Sayange” Milik Indonesia

Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu bersikeras lagu “Rasa Sayange” adalah milik Indonesia, karena merupakan lagu rakyat yang telah membudaya di provinsi ini sejak leluhur, sehingga klaim Malaysia itu hanya mengada-ada.

“Saya sejak lahir tahun 1946 sudah digendong ibu sambil menyanyikan lagu ini. Bahkan lagu ini telah merakyat di bumi Maluku sejak leluhur sehingga Malaysia jangan memanfaatkan tidak dipatenkannya hak cipta lagu “Rasa Sayange” itu menjadi icon parawisata negaranya,” katanya.

Ia bahkan menunjuk kata-kata pada syair pada lagu tersebut seperti “lia” (lihat-red) “jao” (jauh-red), adalah ungkapan dialek orang Ambon, sehingga tidak beralasan bagi Malaysia mengklaim lagu Rasa Sayange adalah milik negara tersebut.

Karenanya Gubernur Ralahalu memandang perlu menghimpun para seniman Maluku untuk mencari tahu siapa sesungguhnya pencipta lagu “Rasa Sayange” sehingga bisa dipatenkan hak ciptanya agar tidak diklaim negara lain seperti Malaysia.

“Kita sudah saatnya memperhatikan hak cipta para seniman Maluku maupun Indonesia secara umum agar tidak dibajak negara lain, karena berdampak merugikan kita dari berbagai segi, terutama budaya dan pariwisata yang sebenarnya memiliki keunggulan komparatif dibanding negara lain,” katanya.

Ketua DPRD Maluku Richard Louhenapessi secara terpisah memandang perlu sekiranya Malaysia masih bersikeras mengklaim lagu “Rasa Sayange” milik mereka, maka legislatif setempat akan melakukan protes ke Mahkamah Internasional melalui pemerintah Indonesia maupun DPR-RI.

“Terpenting inisiatif pemerintah dan masyarakat Maluku ini didukung Pemerintah Pusat sehingga lagu “Rasa Sayange” ini dihargai sebagai lagu rakyat Maluku yang harus diwariskan kepada anak cucu sehingga tidak terancam punah,” katanya.

Louhenapessy merasa perlu untuk mengambil hikmah dari klaim Malaysia terhadap lagu “rasa sayange” karena memangnya penghargaan terhadap hak cipta maupun hasil karya seniman Maluku relatif terbatas, akibatnya dimanfaatkan negara lain untuk hal-hal yang strategis seperti mendukung promosi pariwisata.

Ia pun mencontohkan lagu “Sayang Kane” yang merupakan lagu rakyat Maluku dimanfaatkan oleh Airlines Cina dalam mendukung promosi maskapai penerbangan mereka.

“Jadinya hak cipta para seniman Maluku sudah saatnya dilindungi dan dihargai sehingga memiliki kekuatan hukum agar tidak dimanfaatkan oleh negara lain dalam rangka kepentingan pariwisata maupun program-program strategis lainnya yang sebenarnya merugikan Indonesia maupun Maluku secara khusus,” katanya.(web-pad.indonesia.com)

~ oleh lintasdunia pada Juni 12, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: